Selasa, 20 Agustus 2019

Ajang bergengsi

Foto: Penulis

Ajang bergengsi
Lagi-lagi perebutan sensasi
Berdiri seakan lagi berdikari
Sehingga kini menjadi lupa diri

Ajang-ajang perjuagan
Kini menjadi ajang penipuan
Ajangnya pembodohan
Sehingga tidak adanya kesadaran

Katanya kita adalah generasi yang pempunyai kesdaran
Generasi yang mempunyai konsep dan pemikiran
Berbagai polemik masalah mampu di selesaikan
Tetapi realiatasnya malah penghancuran

Katanya kita kita adalah sebagai agen of changeng
Malah sekarang menjadi agen pembohong
Katanya sebagai agen of sosial
Realitasnya hanyalah agen pembawa sial
Bukan perselingkuhan seksual
Tetapi nilai-nilai intelektual

Senin, 19 Agustus 2019

Jejak kaki


Langkah yang tersembunyi
Jejak-jejak kaki tiada yang mengetahui
Jiwa yang selalu berhalusinasi
Kini harus melangkah pergi

Waktu tidak di sempatkan membuat cerita
Lantaran kedua insan belum berjumpa
Dalam suatu masa
Akan ada sebuah cerita
Bahwa bumi dan langit akan bercinta

Dengan rasa yang saling merindukan
Jiwa-jiwapun mulai bergemetaran
Denga perasaan yang begitu di sugukan
Akan hausnya kata kemesraan

Seandainya tidak ada pemberian harapan
Pasti tidak ada kekecewan
Lantaran karna cita-cita
Maka jiwa harus melupakan cinta

Begitu sadis
Kata-kata yang membuat air mata menetes
Sehingga muncul konsep yang begitu keras
Bahwa memang harus di lepas



Rabu, 07 Agustus 2019

Palsunya kata cinta


Tetasan air mata
Di basuh dengan luka
Dengan rasa yang begitu kecewa
Akan palsunya kata cinta

Kau berikan aku sepucuk pengharapan
Dengan nama tuhan
Kau telah mengucapkan kata cinta
Ternyata itu semua hanyalah sandiwara

Jujur...
Aku sungguh sangat percaya diri
Bahwa kelak engkau bisa ku miliki
Menghayati
Tentang kisah yang akan kita lewati

Ternyata semuanya tidak seperti yang ku bayangkan.
Aku terlalu banyak tidur dalam sebuah khayalan.
Dan akupun selalu tidak tersadarkan.
Bahwa cinta selalu berakhir denga kekecewaan.





Sepi yang bertanya

Foto: Penulis

Dikrumungan yang begitu sepi
Jiwa ini selalu berhalusinasi
Mencoba untuk berdikari
Dalam menempuh apa yang ingin di capai

Dengan  jiwa yang terhempit
Rasanya agak sedikit sulit
Melangkahkan kaki di ruang yg sepi
Tanpa adanya kamu disisi

Terkadang hati bertanya-tanya
Entah kepada siapa 
Cara yang bagaimana
Sehingga aku dan kamu bisa bersama

Mungkin selama ini aku hanya bisa mencintai
Walaupun tidak pernah di cintai
Setidaknya kamu bisa menghargai
Bahwa selama ini aku berusah mengerti dengan setulus hati

Kini sedikit harus ku sadari
Bahwa mencintai
Adalah kepahitan tersendiri
Karena memang engkau tidak pernah bisa mencintai

Andri landada

Minggu, 04 Agustus 2019

Wajah yang tersembunyi


Perihal cinta
Terpancar dari kedua bola mata
Sinaran yang menyapa
Hati mulai merasa
Jiwa yang gelisah

Di kerudung panjang kau bersembunyi
Membuat aku berhalusinasi
Tentang seorang putri
Tersenyum dalam mimpi

Kau membuatku bertanya-tanya
Saat pertama
Di persimpangan jalan kita berjumpa
Berkenalan
Dengan senyuman
Timbul  rasa nyaman

Kini engkau datang kembali
Dengan wajah yang tersembunyi
Membuat aku kembali berimaji
Ternya kamu adalah perempuan yang ada dalam mimpi


Andri Landada

Sabtu, 03 Agustus 2019

Anak bangsa



Foto penulis: Bersama Mandolo

Kita adalah generasi...
Generasi yang terlahir dari rahim ibu pertiwi.. 
Kita adalah kaum revolusi...
Yang akan membawa perubahan untuk negri...

28 okteber dengan sumpah pemuda yang di ikrarkan...
Bertanah air satu tanpa penindasan...
Berbangsa yang rindu keadilan...
Berbahasa satu tanpa kebohongan...

Jangan pernah lupa kepada para pejuang bangsa...
Yang tidak pernah ada kata lelah...
Rela bercucuran darah...
Untuk negri yang merdeka...

Kita adalah anak-anak bangsa...
Harapan bangsa...
Penerus bangsa...
Dan yang akan selalu menjaga nama pancasila...

Jangan pernah lelah...
Jangan pernah menyerah...
Tetaplah satu...
Untuk indonesia yang lebih maju...




Jumat, 02 Agustus 2019

Ketika Ain menghilang

Foto: Andri landada

Kupandangi lautan yang begitu luas
Dengan menghembuskan nafas
Ku coba meneriakan sepotong nama gadis
Yah Ny. Ain

Kini bayang-bayang mu selalu mengganggu sajak-sajak tidurku
Menghantui jiwa yang ingin selalu bersama mu
Bersama jiwa yang selama ini membuatnya terbujur kaku
Sehingga lupa bagaimana caranya untuk melangkah maju

Jangan kau gantung jiwa ini
Jiwa yang ingin berlindung dari duri
Menjauh dari jarak yang melukai
Namun kau selalu menghantui

Salahka jiwa ku berlindung
Mendekap bersama yang terbayang
Menyelinap bersama yang di sayang
Walaupun kini harus menghilang